Begitu banyak tempat yang ingin dikunjungi, tapi waktu dan dana yang terbatas bikin gregetan. Ditambah lagi jam kerja yang padat ditempat baru, kalo dulu weekend libur, sekarang hanya Minggu saja, belum lagi nggak sebebas dulu kalo mau Travelling.
Pangandaran jadi pilihan menarik. Batal, karena baru inget kalo libur Lebaran semua orang serasa 'numplek' di jalan.
Bandung Selatan, pilihan berikutnya. Cari info sebanyak-banyaknya dari sana-sini, Alhamdulillah, dapat kenalan yang memang petugas di Situ Patengang. Berangkatlah kami dari Dago menuju LeuwiPanjang, dari sana langsung naik mini bis (hijau) Bandung-Ciwidey.
Kami disambut panas terik dan debu bertebangan sesampainya di terminal Ciwidey yang merangkap Pasar itu. Setelah bertanya ke perugas setempat, kami naik angkot jurusan Ciwidey_Situ Patenggang. Ternyata, angkot baru bisa jalan kalo berpenumpang 12 orang, sebenarnya banyak orang yang mau naik angkot, tapi sang supir menolak dengan alasan akan melewati jalan potong dan lansung ke situ Patengang.
Singkat kata, setelah melewati beberapa jalan potong -yang tentunya lebih jauh- tapi bebas macet dan supir menyuruh semua penumpag turun di tanjakan karena mesin angkot tidak sanggup nanjak. Kami sampai tak jauh daru rumah strawbery, dari situlah supir angkot berulah lagi, sebelumnya minta tarif Rp 15000/penumpang -normalnya Rp 6000-kini kami diminta turun dan harus membayar lima belas ribu rupiah. Dengan perasaan dongkol semua penumpang turun, kecuali kami yang ikut memutar balik kembali ke Ciwidey. Sempat aku menegur supir angkot 'NaTo' karena muntab luar biasa.
Tapi alih-alih kecewa, aku malah menangis, memutuskan untuk lansung ke Tangerang, dan menyudahi liburan kali ini.
Masih ada hari esok, InsyaAllah liburan akan datang lebih baik dari -liburan- seminggu kemarin.