Selasa, 17 Mei 2011

Setu Babakan

Pengennya naik KA dari Tangerang ampe Ayer (seperti yang tergambar jelas di peta keponakan). Sesampainya di stasiun Kota Tangerang, sang petugas dengan ketusnya bilang kalo stasiun ini hanya jalur Jakarta-Tangerang dan Tangerang-Jakarta. Masih dengan sopan aku bertanya kalo mau ke Anyer naik dari Satsiun yang mana?. Sang petugaspun menjawab sambil menunduk -menghitung uang- di tengah kebisingan peluit sang masinis dan mesin kereta api yang siap melaju. "Maaf, dimana bisa di ulang?" tanyaku lagi
"Jadi mau beli tiket ke Jakarta tidak!" seru sang petugas
Hahahha.....Jaka Sembung...and, I'm not that stupid, Mam! Aku berjalan cepat, memeriksa apakah kereta masih 'mau' menerima penumpang...mmm, tidak! Untung saja belum beli tiket.

Kamipun, keluar stasiun dan naik angkot menuju jalan utama. Rencana cadangan, ke Setu Babakan!. Kami naik bis ke arah Rambutan, turun di pasar Rebo disambut hujan yang cukup deras. Alhamdulliah, setiap orang yang ditanyai tentang lokasi yang akan kami tuju menjawab dengan senang hati. Kami langsung naik angkot bewarna merah (no.15) jurusan Ragunan. Turun di perempatan Jagakarsa, di halte bis yang berada tepat di bawah jalan layang, jadi kami selamat dari guyuran hujan yang masih deras. Kira-kira 10menit kemudian metro mini (no.616)yang kami maksud datang, walaupun penuh kami tetap naik, dan bergelantungan di tengah-tengah badan metro mini.
Metro mini membawa kami memasuki daerah yang redup, rindang dengan pepohonan di kanan kiri ruas jalan, ditambah semilir angin yang segar karena hujan telah reda. Tapi polusi udara mulai tercium...bau jengkol ;O aku mencari plang, karena ingin tahu daerah mana kami berada. Ternyata daerah Jagakarsa, daerah yang dikenal dimana warga Jakarta asli (Betawi) tinggal, dan selain soto Betawi, terak kelor, makanan tradisional Betawi lainnya adalah semur jengkol, apa yang barusan ku cium itu bukan halusinasi rupaya ;p
Aku juga melihat, penumpang yang naik-turun di daerah itu, dengan dialek Betawi yang khas. Yes, baerti aku tidak salah alamat ke Setu Babakan.

Kami turun tepat di depan gerbang Setu Babakan. Mengikuti jalanan setapak yang tenang, sampai suara musik tradisional Betawi menuntun kami ke Setu (yang artinya danau) Babakan.
Kami disambut beberapa rumah tradisional Betawi yang terbuat dari kayu, dan rimbunan pohon...mmm segarnya. Rupanya, ada acara yang digelar, tapi sayang aktraksi bela diri -silat- yang terkenal itu sudah manggung tadi pagi, sebentar lagi akan tampil Lenong -aktraksi drama komedi khas betawi-.
Dengan hanya membayar 500 rupiah, kami bisa keliling danau...mmm cukup romantis, mengayuh perahu berpedal di bawah sinar matahari yang tidak terlalu panas di Sabtu itu dengan kondisi air Setu yang cukup keruh ;( sayang ya...
Sudah cape jalan-jalan, apalagi yang dicari selain makanan. Kami memilih soto Betawi yang rasanya jauh dari enak daripada soto Betawi langgananku deket rumah. Karena tidak ada lagi tempat duduk di warung, kami memilih lesehan di pinggir danau, di bawah pohon yang rindang...mmm, romatis-romantisan babak ke dua ;))) setidaknya menghapus rasa soto yang hambar.
Jalan-jalan sudah, makan sudah...yap, terasa ngantuk sekarang. tapi perjalanan kami masih jauh. Kami bergegas pulang, kali ini mengambil arah ke Blok M. Sebelum pulang, aku sempatkan dulu shalat Ashar di mesjid kesayangku -Mesjid Al Latif- di lantai 5 gedung Grand Sarinah. Setelah itu, barulah berburu bis menuju Cimone Tangerang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar