Kamis, 12 Agustus 2010

The day you passed away...

Hari ini tepat sembilan tahun yang lalu engkau menghembuskan nafas terakhir setelah berjuang selama hampir tiga bulan melawan sirosis di tubuhmu.
Papiku bukan B.J. Habbibie yang seorang teknokrat dan ahli aerodinamis ternama, bukan pula Buya Hamka yang alim ulama, tapi setidaknya sudah membuatku belajar banyak tentang 'hidup' dunia yang penuh onak ini.
Bagai menonton video lama yang diputar kembali tentang sebagian 'perjalanan' hidupku bersama Papi, hampir menjelang waktu berbuka puasa, aku dan kakak-kakakku diajak berjalan-jalan untuk mencari tajil berbuka atau sekedar melihat keramaian orang lalu-lalang di sekitar Dago. Pertanyaan kesukaan Papi untuk menggodaku ketika Ramadhan "Piye, ndo? Lemes 'ndo? arep buka puasa saiki 'ndo?. Pada saat itu, aku akan langsung sewot membalas komentarnya, tapi sekarang? tidak ada pertanyaan seperti itu lagi, kangen juga, nggak ada yang 'kritis' lagi "Aahhh...miss you so much Dad!"
Statusku sebagai anak 'buntut' bukan berarti aku mendapat perlakuan yang istimewa dari Papi, aku masih ingat ketika harus berdiri satu kaki kanan, dengan tangan kiri melintasi kepala memegang telingan kanan, karena tanpa izin memecahkan celengan buah manggisku. Disuruh keluar untuk meminta maaf langsung pada supir kami, ketika aku tanpa sengaja menyiramkan air mengenai sebagian badannya. Meminta kembali masuk kamar ketika semua berkumpul di ruang keluarga untuk mengambil barang yang ketinggalan sendirian dalam keadaan gelap-gulita (karena listrik padam). Tampak mengerikan memang, tapi dari 'sentilan-sentilan' itu aku belajar untuk bertanggung jawab, menghadapi akibat atau konsekuensi atas segala semua perbuatanku. Papi memang sosok yang tidak terlalu banyak bicara, membuat kami semua yang ada disekitarnya merasa sungkan, tapi sekaligus membuat kami merasa kehilangan ketika tidak lagi menemukan sosoknya di dekat kami.
Papi tidak terlalu banyak bertanya ketika aku pergi kemana aku mau, jam berapa aku pulang dengan siapa saja, buat Papi yang penting aku jujur di mana saja aku berada (I'll try to do it Dad!"). Walhasil, aku merasa kebebasan yang jarang didapat oleh teman-teman sebaya.
Masih kuingat, waktu Mama di Jakarta, Papi memasak nasi goreng spesial untuk makan malam, yang rasanya belum ada tandingannya sampai hari ini. berkendaraan menyusuri jalanan sepanjang pulau Jawa, perjalanan kesukaanku adalah Bandung-Yogyakarta dan perjalanan terakhir kami, sebelum Papi (yang tidak mau diam, selalu ada saja yang dikerjakannya) dipaksa menyerah, berbaring lemah melawan penyakitnya adalah Gading Serpong - Dago, aku duduk sebagai co-pilot melewati rute Purwakarta karena Cipularang belum selesai dibangun.
Satu hal yang masih kusesalkan untuk tidak diucapkan sebelum Papi pergi untuk selamanya... "Aku sayang Papi...!" Ahhh kenapa lidah ini kelu ketika sudah ada niat di hati ini? "I love you Dad!"

رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً۬ا
«Ô mon Seigneur, fais-leur, à tous deux, miséricorde comme ils m’ont élevé
tout petit»

[Al Isra : 24]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar