Jumat, 27 Agustus 2010

Being impulsive...

Menjadi seseorang yang serbadadakan tuh...banyak gak enaknya selain hidup nggak ngebosenin emang.

Seharusnya pulang ngajar lansung ke Bank untuk tranfer tagihan ehhh malah ngikut temen yang mau belanja ke swalayan, alih-alih... kan bisa transfer di ATM saja, dan pasti di lingkungan swalayan ada ATM.
Emang bener sih ada, tapi lagi rusak, sampe-sampe temen hampir batal belanjanya karena nggak bisa transaksi dengan kartu debitnya.
Singkat kata, kita keluar gedung, tampak awan hitam bergumul, tanda hujan deras akan segera turun, secepat mungkin kita memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi dengan cara estafet... saking cepatnya, temanku ngga sadar kalo barang berikutnya adalah empat buah mangkok beling... dan prang...prang... semua mata yang ada di halaman parkirpun memandang ke arah kami, plus petugas kemanan yang agak bergegas sedikit menghampiri kami.
Seperti biasa, kami hanya tertawa *plus malu pastimya* dan petugaspun setelah memastikan semua ama-man saja berjalan menjauh, sementari kami berusaha melanjutkan perpidahan barang belanjaan kami dan membereskan serpihan mangkok yang sudah berantakan di jalan aspal.
"Wah, sayang ya... kenapa mangkok yang bagus yang malah pecah?" seru temanku
"Maafkan aku ya, bunda... ikhlas kan?"

Selasa, 24 Agustus 2010

Les Femmes de l'Ombre...

…or Female Agents is four woman who try to help their country in Second Wold War.

I went to Bank, read the schedule of the movies..and “Ok. I think, I need to watch that French Movie!” It was 1 person and I who bought the tickets…Wow, is it a bad movie? so contrary with the last movie I’ve watched…the Eclipe!

It’s just like the other war movie, they’re many violences (but not as much as the Inglourious Basterds). Makes me wonder…why I choosed this one? I don’t like savageness?… what the hell… I’m in…sit with the seven others spectators in one large studio.

Well, at least it’s based a true strory of Lousie desfontaines… and I like someone’s history or biography.

Selasa, 17 Agustus 2010

Hari Senin yang aneh dan memalukan ;d

Mudah-mudahan ini hanya terjadi sekali seumur hidup. Aamiin *sambil mengangkat kedua tangan* betapa...betapa sangat memalukan...

1# motor temen yg ditebeng mogok di perempatan jalan raya pas lampu hijau tepat di 'bibir' zebra cross
2# diklaksonin sama kendaraan yang mau lewat *sok gaya jadi tukang parkir*
3# turun dari motor, alih-alih supaya temen bisa konsen starter motornya lagi......
4# baru kaki berjejak ke aspal...motor melaju dengan kencangnya *teriak sekeras-kerasnya sambil pasrah kalo doi nggak denger krn pake helm*
5# "ciiiiitttt" motor rem mendadak di tengah-tengah bunderan alias pusat perempatan jalan...dan temenku tertawa sambil melambaikan tangan *nyamperin motor sambil nyengir malu, karena jadi 'artist of the day' dadakan*
6# kita cengengesan sampai pintu masuk parkir...dan motorpun oleng saking seriusnya kita cengengesan, mesinnya mati lagi ampe sempet membuat motor lain ngantri tunggu kita *yang masih cengengesan* untuk ambil tiket parkir
7# la vie est belle, n'est-ce pas ;D

Kamis, 12 Agustus 2010

The day you passed away...

Hari ini tepat sembilan tahun yang lalu engkau menghembuskan nafas terakhir setelah berjuang selama hampir tiga bulan melawan sirosis di tubuhmu.
Papiku bukan B.J. Habbibie yang seorang teknokrat dan ahli aerodinamis ternama, bukan pula Buya Hamka yang alim ulama, tapi setidaknya sudah membuatku belajar banyak tentang 'hidup' dunia yang penuh onak ini.
Bagai menonton video lama yang diputar kembali tentang sebagian 'perjalanan' hidupku bersama Papi, hampir menjelang waktu berbuka puasa, aku dan kakak-kakakku diajak berjalan-jalan untuk mencari tajil berbuka atau sekedar melihat keramaian orang lalu-lalang di sekitar Dago. Pertanyaan kesukaan Papi untuk menggodaku ketika Ramadhan "Piye, ndo? Lemes 'ndo? arep buka puasa saiki 'ndo?. Pada saat itu, aku akan langsung sewot membalas komentarnya, tapi sekarang? tidak ada pertanyaan seperti itu lagi, kangen juga, nggak ada yang 'kritis' lagi "Aahhh...miss you so much Dad!"
Statusku sebagai anak 'buntut' bukan berarti aku mendapat perlakuan yang istimewa dari Papi, aku masih ingat ketika harus berdiri satu kaki kanan, dengan tangan kiri melintasi kepala memegang telingan kanan, karena tanpa izin memecahkan celengan buah manggisku. Disuruh keluar untuk meminta maaf langsung pada supir kami, ketika aku tanpa sengaja menyiramkan air mengenai sebagian badannya. Meminta kembali masuk kamar ketika semua berkumpul di ruang keluarga untuk mengambil barang yang ketinggalan sendirian dalam keadaan gelap-gulita (karena listrik padam). Tampak mengerikan memang, tapi dari 'sentilan-sentilan' itu aku belajar untuk bertanggung jawab, menghadapi akibat atau konsekuensi atas segala semua perbuatanku. Papi memang sosok yang tidak terlalu banyak bicara, membuat kami semua yang ada disekitarnya merasa sungkan, tapi sekaligus membuat kami merasa kehilangan ketika tidak lagi menemukan sosoknya di dekat kami.
Papi tidak terlalu banyak bertanya ketika aku pergi kemana aku mau, jam berapa aku pulang dengan siapa saja, buat Papi yang penting aku jujur di mana saja aku berada (I'll try to do it Dad!"). Walhasil, aku merasa kebebasan yang jarang didapat oleh teman-teman sebaya.
Masih kuingat, waktu Mama di Jakarta, Papi memasak nasi goreng spesial untuk makan malam, yang rasanya belum ada tandingannya sampai hari ini. berkendaraan menyusuri jalanan sepanjang pulau Jawa, perjalanan kesukaanku adalah Bandung-Yogyakarta dan perjalanan terakhir kami, sebelum Papi (yang tidak mau diam, selalu ada saja yang dikerjakannya) dipaksa menyerah, berbaring lemah melawan penyakitnya adalah Gading Serpong - Dago, aku duduk sebagai co-pilot melewati rute Purwakarta karena Cipularang belum selesai dibangun.
Satu hal yang masih kusesalkan untuk tidak diucapkan sebelum Papi pergi untuk selamanya... "Aku sayang Papi...!" Ahhh kenapa lidah ini kelu ketika sudah ada niat di hati ini? "I love you Dad!"

رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً۬ا
«Ô mon Seigneur, fais-leur, à tous deux, miséricorde comme ils m’ont élevé
tout petit»

[Al Isra : 24]

Selasa, 10 Agustus 2010

"Marhaban yaa Ramadhan..."

Tantangan tersendiri tinggal di lingkungan minoritas seperti sekarang ini, untuk mendengarkan adzan saja aku lebih sering mengandalkan media elektronik daripada mendengar dari sumbernya langsung. Belum didirikannya mesjid di area komplek merupakan salah satu penyebabnya, sehingga aku harus berjalan kurang lebih berjarak 1 km menuju mesjid terdekat yang berada di perkampungan penduduk setempat.
Tapi, tekadku untuk shalat sunnah Terawih di hari pertama malam Ramadhan 1431 H ini sudah bulad. Berbekal informasi seadanya, aku ikuti jalan setapak, sampai akhirnya menemukan perduaan jalan, terdengar panggilan Shalat Isya dari arah kanan...tak urung kubertanya pada seseorang yang berpakain koko dan sarung sebelum melangkahkan kakiku menuju mesjid untuk memastikan teori 'asal suaraku'.
Tampak, jemaah sudah berkumpul, sebagian jamaah wanita duduk bersaf-saf di halaman sekolah. Hati ini bergetar melihat pemandangan ini, tidak sedikit umat yang berbondong-bondong untuk shalat berjamaah, Subhanallah.
Alhamdullilah...seakan alam ikut bertasbih memuji Sang Khalik, sepanjang ibadah berlangsung, udara tidak sepanas atau turun hujan seperti hari-hari sebelumnya. Kunikmati 'kencanku' malam ini, kucoba untuk khusyuk mendengarkan setiap bacaan surat dari imam yang 'beradu' volume dengan anak-anak kecil yang dengan 'sukarelanya' menjawab 'Aamiin' dengan suara yang lantang dan panjang. Kusambut Ramadhan dengan suka cita... ;)
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِڪُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Ô les croyants! On vous a prescrit aṣ-Ṣiyām(2) comme on l’a prescrit à ceux d’avant vous, ainsi atteindrez-vous la piété [Al Baqara : 183]