Tanpa fikir panjang, aku sambut ajakan temanku untuk merayakan Nishfu Sya'ban di kampungnya. Mmm apa istimewanya ya? Pada bulan ini Rasull biasanya memperbanyak puasa sunnah (ayyamul biidh), dzikir dan sedekah. Karena di bulan Sya'ban amalan-amalan manusia naik ke langit. Nishfu artinya tanggal pertengahan di bulan Syaban, yaitu pada tanggal 13,14 dan 15.
Ba'da Magrib, kami pergi ke komplek Mesjid. Kok komplek? Ya, karena dalam satu area terdiri dari mesjid yang para jamaatnya khusus para pria, sedangkan para wanita dan anak-anak bertilawah di Majlis.
Aku terkesima melihat para jemaat wanita membaca surat Yasin dengan fasih, seakan-akan sudah hapal di luar kepala. Subhanallah. Mereka membaca tiga kali secara bersamaan dipimpin oleh seorang Murobi wanita yang diawali dengan surat Al Fatihah. Setelah selesai, kami berbaris di halaman luar Majlis untuk menunggu sanak saudara, tetangga lalu saling maaf-memafkan.
Aku? boleh dibilang hanya kenal 0,03% warga kampung itu, tapi mereka dengan tulus dan ramah, mengulurkan tangan dan mengucapkan kata "Maaf". Masya Allah, aku tertegun mengalami kejadian itu, baru beberapa jam, bak' warga setempat.
Temankupun mengajak berkeliling kampung, mengunjungi para sesepuh kampung serta para kerabatnya, tampak warga hilir mudik di sepanjang jalan saling memaafkan dengan pakaian terbaik mereka. Waahh serasa Hari Raya, hanya saja tidak ada hidangan khas Lebaran yang tersedia di meja ;D
Sepanjang jalan pulang aku masih takjub dengan tradisi mereka, yang sudah mulai langka ditelan jaman. Sesampainya di rumah, kulihat lontong Cap Go Meh terhidang di meja makan, Alhamdulilah, lengkap sudah hariku; kutunaikan puasa sunnahku, merasakan 'Lebaran prematur' dan menyantap hidanganya sekarang. [1431H]
Ba'da Magrib, kami pergi ke komplek Mesjid. Kok komplek? Ya, karena dalam satu area terdiri dari mesjid yang para jamaatnya khusus para pria, sedangkan para wanita dan anak-anak bertilawah di Majlis.
Aku terkesima melihat para jemaat wanita membaca surat Yasin dengan fasih, seakan-akan sudah hapal di luar kepala. Subhanallah. Mereka membaca tiga kali secara bersamaan dipimpin oleh seorang Murobi wanita yang diawali dengan surat Al Fatihah. Setelah selesai, kami berbaris di halaman luar Majlis untuk menunggu sanak saudara, tetangga lalu saling maaf-memafkan.
Aku? boleh dibilang hanya kenal 0,03% warga kampung itu, tapi mereka dengan tulus dan ramah, mengulurkan tangan dan mengucapkan kata "Maaf". Masya Allah, aku tertegun mengalami kejadian itu, baru beberapa jam, bak' warga setempat.
Temankupun mengajak berkeliling kampung, mengunjungi para sesepuh kampung serta para kerabatnya, tampak warga hilir mudik di sepanjang jalan saling memaafkan dengan pakaian terbaik mereka. Waahh serasa Hari Raya, hanya saja tidak ada hidangan khas Lebaran yang tersedia di meja ;D
Sepanjang jalan pulang aku masih takjub dengan tradisi mereka, yang sudah mulai langka ditelan jaman. Sesampainya di rumah, kulihat lontong Cap Go Meh terhidang di meja makan, Alhamdulilah, lengkap sudah hariku; kutunaikan puasa sunnahku, merasakan 'Lebaran prematur' dan menyantap hidanganya sekarang. [1431H]
